DEKLAMASI DAN PEMENTASAN KARYA
SASTRA ANAK-ANAK
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD)
Dosen
Pembimbing : Drs. Sukarir Nuryanto, M.Pd.
Disusun
Oleh :
1. DEWI AYU ARISMAYA 1401413151
2. ARTIKA
RAHAYU 1401413158
3. RIO FAHRUDIN 1401413169
4. TRI SUSILOWATI 1401413172
Rombel 6
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
Deklamasi
dan Pementasan Karya Sastra Anak-Anak
PEMBUKA
A.
Latar Belakang
Deklamasi puisi merupakan suatu yang
banyak dilakukan oleh seorang deklamator. Namun, belum banyak orang yang
mengetahui perbedaan deklamasi dan membaca puisi. Serta unsur-unsur yang
terdapat pada deklamasi puisi anak-anak. Pementasan adalah suatu yang sangat
erat kaitannya dengan karya sastra anak-anak . Dalam mementaskan suatu karya
sastra diperlukan teknik dalam mementaskannya serta penataan artistik yang
tepat.
Materi ini menjadi modal awal bagi
Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena
dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat
mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya sehingga semakin mahir
mengapresiasi sastra anak-anak secara produktif. Selain itu, Anda akan semakin
luas wawasannya tentang nilai-nilai pengalaman kemanusiaannya dan semakin
tumbuh sikap positifnya terhadap sastra anak-anak.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah pengertian dari deklamasi?
2. Apakah syarat mendeklamasikan puisi?
3. Apakah pengertian drama?
4. Apakah
dasar-dasar pementasan drama Anak-anak
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari
deklamasi.
2. Untuk mengetahui syarat
mendeklamasikan puisi.
3. Untuk mengetahui pengertian drama.
4. Untuk mengetahui dasar-dasar
pementasan drama anak-anak
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Deklamasi
Kata “deklamasi“ berasal dari bahasa Inggris “declamation”
yang berarti penyuaraan sesuatu lewat suara. Secara umum, deklamasi merupakan
suatu kegiatan membawakan atau menyampaikan puisi atau prosa secara lisan
disertai mimik, intonasi, dan gerak jasmaniah yang wajar sesuai konteks makna
larik atau yang dituturkan. Aspek-aspek tersebut harus saling menunjang dan
atau saling melengkapi dalam menciptakan suasana deklamasi yang dapat memukau
para penonton.
Junaedi (1989) mengemukakan beberapa perbedaan antara baca
puisi dan deklamasi dari berbagai segi: (1) baca puisi si pembaca memegang
naskah puisi sedang deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat
berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi, (2)
pada baca puisi, jumlah dan panjang puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang
daripada deklamasi, (3) pada baca puisi faktor suara/intonasi banyak berperan,
sedang deklamasi disamping intonasi juga faktor mimik dan gestur atau gerak
jasmaniah, (4) baca puisi relatif untuk diri sendiri dan orang lain, sedang
deklamasi semata-mata untuk orang lain.
B.
Syarat
Mendeklamasikan Puisi
Menurut Ali (1982) syarat yang harus
dipenuhi seorang pembaca/deklamasi puisi adalah sebagai berikut:
a.
Mempunyai kemampuan teknis
Kemampuan teknis yang harus dipenuhi
untuk menjadi seorang pembaca atau deklamator puisi yang baik adalah suara yang jelas, vokal
yang sempurna, mahir membentuk irama, mampu mengubah warna suara secara dan
menarik.
b.
Penguasaan mimik
Seorang deklamator harus memiliki kemampuan mengubah-ubah
raut muka yang alamiah dan wajar sesuai makna larik atau bait puisi yang
dideklamasikan, mimik marah, mimik takut, mimik terharu, mimik sedih, mimik, heran,
dan sebagainya.
c.
Penguasaan gestur
Seorang pembaca atau deklamator puisi harus memiliki
penguasan gerak anggota tubuh (gestur) secara reflek dan pantas sesuai isi
larik puisi yang dideklamasikan. Fungsinya sebagai komplementer bagi pelafalan
dan intonasi larik/baik yang dilantunkan.
d.
Penguasaan memahami puisi dengan tepat
Salah memahami isi suatu sajak yang dideklamasikan akan
berpengaruh terhadap lafal-intonasi, mimik, dan gerak tubuh yang ditampilkan.
Karena itu, seorang pembaca/ deklamator puisi harus memiliki kemampuan memahami
isi, suasana, sikap pengarang yang tersembunyi dalam puisi yang di deklamasikan
1.
Deklamasi
dan Unsur Penilaiannya
Menilai dan menentukan suatu
deklamasi yang baik perlu memperhatikan berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut,
menurut Ali (1984) meliputi aspek interpretasi dan presentasi. Interpretasi
meliputi: visi, artikulasi, dan intonasi, sedang presentasi meliputi: vokal,
gestur atau gerak, tekanan, volume suara, ekspresi mimik. Sedangkan menuurut
Aminuddin (2004) bahwa aspek-aspek yang diiperhatikan dalam menilai suatu
deklamasi adalah (1) aspek pemahaman dan penghayatan tentang makna, suasana
penuturan, sikap pengarang, dan intensi pengarang, (2) aspek pemaparan yang
meliputi: kualitas ujaran, tempo, durasi, pelafalan, ekspresi wajah.,
kelenturan tubuh, dan konversasi. Berikut Unsur penilaian deklamasi puisi :
a. Pelafalan
Pelafalan yang dimaksud adalah
pelafalan bunyi vokal, konsonan secara tepat, misalnya makan tidak diucapkan
makang tetapi makan, cepat tidak dilafalkan cepa’ tetapi cepat, kemana tidak
dilafalkan kEmana tetapi kemana, kiri tidak
dilafalkan keri tetapi kiri dan sebagainya. Di samping itu, pelafalan
menyangkut pula dengan masalah kejelasan, yakni pelafalan bunyi vokal,
konsonan, dengan volume suara yang jelas dan sempurna, misalanya vokal /o/
dilafalkan denga suara yang keras atau jelas serta dengan bentuk mulut yang
tidak setengah bundar.
b. Intonasi
Intonasi yang dimaksud kaitannya
dengan deklamasi puisi bukan hanya berkaitan dengan aspek panjang pendeknya
suara (tempo), tinggi rendahnya suara (nada) melainkan juga termasuk keras
lembutnya suara (tekanan) dan perhentian suara sejenak (jeda) pada saat mendeklamasikan
larik atau bait puisi. Keseluruhan aspek tersebut tentu nampak secara
keseluruhan sebagai suatu komponen yang saling berhubungan secara utuh.
c. Ekspresi Wajah (mimik)
Mimik adalah perubahan raut wajah sesuai
konteks makna dan suasana puisi atau prosa yang dibaca. Penampakan mimik yang
tepat merupakan cerminan dari tingkat pemahaman dan penghayatan makna dan
suasana penuturan, dan sikap pengarang karya sastra tersebut. Ekspresi wajah
(mimik) dalam deklamasi sastra dapat terdiri atas beberapa macam, antara lain,
mimik sedih, mimik marahh/tegas, mimik gembira, dan sebagainya.
d. Gestur
(kelenturan tubuh)
Yakni kemampuan pembaca menguasai
anggota tubuh dalam menggerakkannya secara lentur, refleks namun kelihatan
wajar dan alamiah sebagai sarana penunjang. Gestur atau gerak jasmaniah harus
selalu sejalan dengan pemaparan intonasi dan perasaan pembaca, misalnya saat
membaca larik puisi gunung yang tinggi, tangan menunjuk ke atas secara lentur
dan refleks, pada saat membaca larik /sungai yang berkelok-kelok/ tangan
bergerak berkelok-kelok secara lentur dan refleks dan sebagainya
e. Konversasi
Berdeklamasi di hadapan khalayak
penonton secara langsung menurut Aminuddin (2004) pada hakikatnya sedang
berkomunikasi dengan penikmat itu sendiri. Olehnya itu, deklamator selayaknya
memperhatikan sikap yang dapat menumbuhkan suasana simpatik dan keakraban
antara dirinya dengan khalayak penonton, misalnya penciptaan kontak lewat
pandangan mata, pengaturan posisi tubuh, pengaturan gerak-gerik tubuh secara
wajar.
Contoh
Deklamasi Puisi
Di Kala Kuberdoa
Elviani
Dikala
kuberdoa
Ada
rasa damai di hati
Di kala kuberdoa
Air mata ini jauh
Satu-satu di pipi
Di
kala kuberdoa
Kusadari
siapa diriku
Tidak
putih, Tuhan
Ketika kuberdoa
Kudengar
bisikanmu menyejukkan
Sekan
menghapus keresahan hatiku
Terima
kasih Tuhan
Atau
kasih saying-Mu padaku
Dengan
memperhatikan secara kritis puisi di atas, maka berikut dipaparkan hal hal yang
perlu diperhatikan saat membaca puisi diatas, khususnya dari segi intonasi,
mimik, gestur tubuh, dan konversasi.
1.
Pembaca puisi “Di Kala Kuberdoa” dominan
menggunakan intonasi sedih: tempo lambat, nada rendah, dan tekanan dinamik yang
lembut
2.
Pembacaan puisi “Di Kala Kuberdoa”
menggunakan mimik sedih pada bait kedua, ketiga, keempat, dan mimic gembira
pada bait pertama dan larik kedua bait ke empat
3.
Gerak refleks anggota tubuh saat
mendeklamasikan puisi di atas adalah saat membaca
C. Pementasan Drama
1.
Pengertian
Drama
Drama adalah suatu genre sastra yang
ditulis dalam bentuk dialog yang tujuannya bukan untuk dibaca melainkan untuk
dipertunjukkan oleh aktor di atas pentas. Drama sebagai salah satu karya
sastra, oleh Sumardjo (1984) memiliki unsur-unsur: tema, plot, latar, karakter,
dialog, pembagian waktu, efek, dan retorika. Namun demikian Japi Tambojang
(dalam Tjahyono dan Setiawan, 1998: 6.3) menyatakan bahwa secara teknis naskah
drama dibangun dua komponen penting yaitu wawancang dan kramaagung.
·
Wawancang adalah suatu percakapan yang
harus dihapal oleh aktor yang disertai pemahaman intonasi yang tepat.
·
Kramagung merupakan instruksi yang
membantu aktor untuk berakting di atas panggung dengan tepat sekaligus sebagai
rambu-rambu atau petunjuk bagi penata panggung mempersiapkan tempat pementasan
yang sesuai latar adegan atau babak yang akan dipentaskan. Misalnya :
LISWATY
DUDUK DI KURSI BELAKANG. IA ADALAH GADIS JELITA, BERUSIA SEKITAR 20 TAHUN,
MENGENAKAN PAKAIAN DAN DANAN MUTKHIR. TAS DAN SATU EKS BUKU DIKTAT YANG DIBAWA,
RTERLETAK DI KURSI KIRI. SEKARANG IA SEDANG MEMBACA KORAN SAMBIL SESEKALI
MENOLEHH ARAH PINTU BELAKANG. KEMUDIAN SAPARI MUNCUL DAR IP INTU BELAKANG
DENGAN TERSENYUM. IA BERUSIA SEKITAR 27 TAHUN UMURNYA...
Lisawaty
: “Bagaimana si Orok. Tak perlu
bantuanku, bukan?”
Sapari
: “O, tidak Dsudah beres. Tidur
pulas ia sekarang. Jadinya lega aku.”
Lisawaty
: “Tak kusangka engkau seterampil
itu.”
Sapari
: (MELANGKAH KE KURSI DEKAT MEJA)
“Ucapan orang bijaksana memang selalu benar.”
(Drama Pendek“Tanpa Pembantu”, oleh A.Adjib
Hamzah, 1985)
Naskah yang ditulis dengan huruf
kapital dan dalam kurung disebut kramagung sedangkan yang bagimana naskah yang
ditulis dengan huruf kecil disertai tanda petik adalah contoh wawancang atau
dialog.
2.
Teknik
Mementaskan Drama
a.
Teknik Muncul
Cara pemain memunculkan diri pada saat tampil pertama kalinya
di atas pentas dalam satu drama babak, atau adegan. Pemunculan tersebut memberi
kesan pada para penonton sesuai peran yang dimainkan.
b.
Teknik Memberi Isi
Pengucapan suatu kalimat dengan penekanan makna tertentu
melalui tempo, nada, dinamik, misalnya :
DIA sangat baik padaku
(bukan saya atau mereka)
Dia SANGAT baik padaku
(bukan kurang atau cukup)
Dia sagat BAIK padaku (
bukan tidak baik )
Dia sangat baik PADAKU
(bukan orang lain tapi padaku)
Teknik ini harus
terpadu dengan teknik jasmaniah seperti mimik, sikap, gerak anggota adan lainnya (gestur)
c.
Teknik Pengembangan
Teknik membuat drama bergerak dinamis menuju klimaks atau drama
tidak datar. Teknik terbagi atas beberapa teknik :
i.
Teknik pengembangan pengucapan: seperti
menaikkan volume suara atau sebaliknya, menaikkan tinggi nada suara atau
sebaliknya, menaikkan kecepatan tempo suara atau sebaliknya.
ii.
Teknik pengembangan jasmaniah, yakni
§
Menaikkan posisi jasmaniah, dari duduk
menjadi berdiri lalu berjongkok dan seterusnya
§
Dengan cara memalingkan kepala, tubuh
atau seluruh tubuh
§
Dengan cara berpindah tempat dari kiri
ke kanan , dari belakang ke depan, dan sebagainya.
§
Dengan cara menggerakan anggota badan
tanpa berubah tempat seperti menggerakkan kaki atau jari
§
Dengan ekspresi wajah (mimik) untuk
mencerminkan emosi tertentu, misalnya mata sendu, muram untuk mengekspresikan
kesedihan dan sebagainya.
d.
Teknik Timing
Teknik ini merupakan ketepatan hubungan antara gerakan
jasmaniah dengan kata -kata atau kalimat yang diucapkan dalam waktu yang
singkat atau sekejap, misalnya :
·
Bergerak sebelum mengucapkan kata-kata
tertentu, seperti menepuk kepala “aku lupa, maaf ! ”
·
Bergerak sambil mengucapkan sesuatu seperti
menupuk kepala mengucapkan “aku lupa, maaf ! ”
·
Bergerak setelah mengucapkan sesuatu
seperti “aku lupa, maaf ! ” lalu menepuk kepala.
e.
Teknik Penonjolan
Penonjolan isi merupakan teknik dimana seorang pemain harus
memahami pada bagian mana suatu kalimat yang perlu ditonjolkan pada saat
diucapkan.
D. Dasar-dasar Pementasan Drama
anak-anak
Junaedi (1989) dan Ramelan (1982)
mengemukakan beberapa dasar-dasar pementasan yang perlu dikuasai. Dasar-dasar
tersebut sebagai berikut :
a.
Penguasaan Vokal
Seorang calon pemain drama harus
menguasai pelafalan bunyi konsonan dan vokal sesuai artikulasinya secara tepat
dan sempurna. Disertai suara yang jelas dan keras.. Penguasaan vokal ini
biasanya di tempat terbuka untuk mengulang-ulang vokal tertentu sampai sempurna
pengucapannya.
b.
Penguasaan Mimik.-Intonasi Dasar
Seorang calon pemain harus menguasai mimik dasar seperti
mimik sedih, gembira, dan marah. Mimik marah biasa ditandai dengan mata
melotot, muka kemerah-merahan, kening berkerut, mimik sedih ditandai dengan
wajah muram, pandangan mata sayu, dan mulut tertutup, sedang mimik gembira
ditandai muka yang bercahaya, mata bersinar, dan mulut terseyum. Di samping
mimik harus pula menguasai intonasi dasar sedih (tempo lambat-nada rendah-
tekanan lembut), intonasi marah (tempo cepat- nada tinggi- tekanan keras), dan
intonasi gembira (tempo-nada-tekanan bersifat sedang). Mimik dan intonasi
sangat mendukung peran yang dimainkan.
c.
Penguasan Kelenturan Tubuh
Tubuh seorang pemain drama harus
lentur atau elastis sehingga dalam memainkan peran tertentu tidak kelihatan
kaku. Untuk mencapai penguasaan tubuh yang elastis, perlu melakukan serangkaian
gerakan seperti berlari cepat dalam jarak dekat, bolak balik ke utara, selatan,
timur, barat, ke segala penjuru. Berjalan dengan menggambarkan perasaan sedih,
jalan kepayahan membayangkan berjalan di padang pasir hingga jatuh bergulingan,
dan seterusnya.
d.
Penguasaan Pemahaman Watak Peran
Suatu peran menjadi hidup bila
aktornya memiliki penguasaan pemahaman dan penghayatan watak peran yang tepat.
Untuk memperoleh pemahaman watak peran yang tepat, perlu mengadakan analisis
peran berdasarkan naskah, seperti memahami alur cerita, pengenalan,
permasalahan, klimaks , dan penyelesaian lalu mencatat peran yang akan
dimainkan. Selanjutnya, mencatat secara lengkap tentang umur, pekerjaan,
lingkungan kesehatan, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan dan
kepribadian peran yang akan dimainkan. Watak tersebut dibayangkan sedalam-dalamnya
sehingga pada saat memainkan peran tersebut, watak pribadi aktor terganti
dengan watak peran yang semestinya diperankan.
e.
Penguasaan pemanggungan
Penuguasaan pemanggungan sebagai
suatu yang harus dimiliki oleh setiap pemain dama, antara lain berkaitan
dengan:
·
Teknik muncul pada saat pertama kali
aktor tampil di panggung sesuai peran yang dimainkan. Pemunculan itu berfungsi
memberi kesan simpati bagi penonton;
·
Bloking, yakni penguasaan masing-masing
aktor tentang daerah gerakannya di atas panggung sehingga panggung kelihatan
tak berat sebelah;
·
Penguasaan cahaya dan bunyi, yakni aktor
perlu penguasaan menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya dan bunyi(sound
system) di atas panggung.
1. Tata Artistik Pementasan Drama
a.
Musik merupakan iringan ilustrasi yang mengatur suatu
adegan / babak sehingga peristiwa yang digambarkan semakin hidup
dan menarik penonton.
b.
Tata rias wajah merupakan salah satu bagian yang
membantu mengubah aktor muda memerankan aktor yang kelihatan tua, atau sebaliknya.
Aktor yang sehat, kelihatan sakit, dll.
c.
Busana merupakan salah satu bagian yang membantu
memberikan nilai keindahan, efek visual yang menarik saat pementasan.
d.
Cahaya merupakan salah satu bagian yang membantu
permaianan dalam menggambarkan peristiwa tertentu, seperti malam, siang, sore,
selain itu dapat membantu pada saat menjelang memasuki pembukaan lampu panggung
padam saat layar ditutup.
e.
Suara (soundsystem). Dengan seni artistik yang baik,
suara musik, dialog pemain akan terdengar jernih, jelas, dan menarik.
2. Sutradara dan Pementasan Drama
a. Peran sutradara yaitu:
Memilih naskah bermutu. Sutradara memilih naskah bermutu
dengan berlandaskan pada: nilai filsafat, yakni naskah tersebut mengandung
perenungan hakiki.
·
segi
artistik, yakni naskah tersebut memiliki nilai estetis yang tinggi.
·
segi
etishumanistik, yakni naskah tersebut memiliki niali moral yang dapat
memperkaya rokhani penonton.
·
segi
komersil yakni naskah memiliki daya minat yang mampu memancing penonton.
b. Menentukan penafsiran naskah
Naskah yang akan dipentaskan harus
sesuai keinginan penafsiran sutradara berdasarkan naskah. Semua akting dan
dialog merupakan anjuran atau persetujuan sutradara karena berhasil atau
gagalnya banyak ditentukan oleh kreatifitas, etos kerja, dan tanggungjawabnya.
c. Memilih aktor
Berdasarkan hasil penafsiran
terhadap naskah, sutradara memilih dan menentukan aktor sesuai postur tubuh,
umur, dan jenis kelamin serta keahlian tokoh yang diinginkan dalam naskah.
d. Melatih aktor
Setelah memilih aktor, tugas
sutradara adalah menentukan jadwal latihan untuk melatih aktor . Kepiawian
aktor dalam memainkan peraan yang diembannya sebagai prapementasan final.
e. Bekerja sama dengan tim
Sutradara juga harus mampu
menentukan tim yang dapat membantunya mempersiapkan tata artistik : sinar, rias
wajah, busana, musik, panggung. Tim tersebut harus mempunyai jiwa kreatif dan
semangat kerja yang tinggi.
Contoh
drama :
Penyesalan
Rio
Tokoh :
·
Rio sebagai adik
·
Raka (aku dalam cerita sebagai kakak)
·
Bibi, Ibu, dan Ayah
Babak I
Disebuah
ruangan di rumah sakit, tampak Rio tidur pada sebuah tempat tidur yang diberi
seperei berwarna putih, dan selimut berwarna hijau. Di sebelah kiri atas tempat
tidur terdapat meja kecil yang berhias bunga. Di sebelah kanan atas tempat
tidur terdapat sebuah meja kecil yang berisi sekeranjang buah-buahan. Ruang
tersebut disekat dengan kain berwarna hijau.
Rio
terbaring di tempat tidur. Di sampingnya berdiri seorang perawat yang baru saja
selesai mengukur suhu tubuhnya. Dari pintu, masuk bibi dan Raka dengan membawa
bungkusan buat Rio.
Bibi :”Hai
Rio! Bagaimana, sudah makin baik?” (tangannya mengusap tangn Rio)
Rio :”Lumayan
Bi!”
Raka :”wah, kamu kelihatan sudah sehat! Sebentar
lagi bias pulang, ya! Nih, kakak bawakan
sangkis buah kesukaan kamu!” (Raka menuju meja penyimpanan bawaannya)
Rio :”Bi,
maafkan Rio ya!”(memelas)
Bibi
:”lho, memang mengapa? Sudah, kamu
jangan punya pikiran yang bukan-bukan, biar cepat sembuh!”
Rio :”Iya,
Bi! Tapi Bibi memaafkan Rio, kan?”
Bibi :”Bibi
sangat sayang kepadamu, sebelumkau minta, Bibi sudah memaafkanmu!”
Raka :”bagaimana
? Apa sekarang masih akan tidur dengan kucing?”
Rio :”No
way!” (sambil menggerakkan telapak tangannya menyatakan tidak)
Raka :”Bagus, kamu memang anak yang baik!” (bibi tersenyum memandang dua
anak beradik itu dengan penuh sayang)
Raka :”kucingmu boleh tetap dipelihara, asalkan
tidak di ajak bermain didalam dan diajak tidur“.
Rio :”Walaupun aku tetap saying sama kucing
tapi sekarang kucingku harus tidur dirumah-rumahnya. Dan bibi tak usah segan
mengepruknya ke luar, jika kucing itu masuk rumah kita”(sambil memandang kea
rah Bibi).
Bibi :”Iya, saying! Sekarang, Rio tidur, ya!
Bibi dan Raka harus segera pulang sepaya tidak kemalaman”. (mengusap kepala
Rio).
Raka :Ayo, (tangannya melakukan salam tepuk
dengan adiknya) kak pulang dulu, ya!”
Rio :”Ya,…..”Terima
kasih, Bi, Kak!”
Babak II
Di sebuah ruang tengah seorang ayah dan seorang ibu sedang
duduk beristirahat. Ayah tampak membaca. Di atas meja terhidang teh hangat dan
kue.
Ayah :”Bagaimana
belajar anak-anak, Bu?”
Ibu
:”Bagus Pak! Malah sekarang mereka
juga sedang (Rio dating menghampiri orang tuanya, sambil mengelus seekor
kucing)”
Rio :”Bibi nakal, Bu! Kucing Rio selalu
dipukul sapu lidi, dan tak boleh ke dalam”.(ayah melihat kearah Bibi
menggerakkan tangannya )
Ayah
:”Ada apa lagi, sudah ke sana!
(mengibaskan tangannya ).
Bibi :”Kak, sekarang kucing itu berak, mengotori
rumah ini!”
Ayah :”Apa! Berak?” ( Ayah melihat kearah rio )
Ayah :”Coba lihat tanganmu kucing itu pasti belum
bersih!”
Rio :”ini”.( sambil memperlihatkan tangannya)
Ayah :”Nin, Dimana beraknya kucing itu?”
Bibi :”Disana !Di kamar Rio dan koridor,
lihatlah !”
Ibu :”Kucing berak, malah nyuruh kakakmu
melihatnya! Gimana kamu ini?” ( marah )
Ayah :”Bersihkan kotoran itu!”( bangkit,
meninggalkan ruangan diikuti dengan Bibi )
Babak
III
Di sebuah ruangan di rumah sakit. Dekorasi sama dengan
babak satu. Ditambah dengan kopor kecil yang diletakkan di atas tempat tidur.
Rio duduk bersama Ibu, disaksikan Raka dan Bibi.
Raka :”wah sekarang sudah siap untuk tidur dengan
si Meng lagi nih!”( tersenyum sambil melihat Rio )
Rio :”Jangan gitu, Kak. Rio kan sudah janji
pada Bibi, kaka, dan diriku sendiri. Tidur sama kucing. No way! No way ! (
semua tertawa )
Raka :”Benar kamu sudah janji dan sampai dalam
hati?”
Rio :”Kak jangan ragu, insyallah akan saya
buktikan nanti!”
Rio :”Terima kasih, kalau adik sudah sadar!”
Ayah :”Mari kita pulang ke rumah, nak!” (wajah
mereka tampak bahagia)
(Karya
Mien R. dalam Apresiasi Drama anak-anak, 2000)
PENUTUP
A. Simpulan
Deklamasi puisi atau prosa anak-anak merupakan suatu
kegiatan penyampaian sajak atau prosa melalui suara secara langsung atau secara
lisan di depan khalayak. Syarat yang perlu dipenuhi untuk menjadi pembaca puisi
yang baik adalah kemampuan teknis, gestur tubuh yang wajar, penguasaan mimik,
dan pemahaman isi sajak.
Unsur-unsur yang dinilai dalam deklamasi puisi adalah (1)
aspek pelafalan atau volume suara yang sempurna, (2) intonasi yakni penuturan
suatu larik atau kalimat yang di dalamnya merangkaikan secara harmonis antara
tempo, nada, tekanan sesuai konteks makna kalimat/larik yang dilafalkan, (3) mimik
yakni perubahan raut wajah atau ekspresi wajah sesuai konteks makna
larik/kalimat yang mendukung intonasi yang dituturkan, (4) gestur yakni gerak tubuh secara refleks dan
wajar sesuai konteks makna larik/kalimat
untuk mendukung mimik yang dipaparkan, (5)
konversasi adalah sikap deklamator di atas pentas yang dapat menumbukan
keakraban dan simpati para penonton.
Drama adalah suatu cerita konflik tentang kehidupan manusia
yang ditulis dfalambntuk dialog. Secara
teknis unsure drama meliputi wawancang atau dialog dan kramagung yang merupakan
pentunjuk bagi aktor , penata panggung, dan sutradara melaksanakan tugasnya
dengan baik. Beberapa teknik yang perlu dipahami setiap calon aktor agar dapat
tampil di pentas dengan baik, yakni: teknik timing, teknik muncul, teknik
penonjolan isi, dan teknik pengembangan.
Di samping itu, seorang calon aktor perlu pula memiliki
penguasaan vokal, penguasaan mimik, penguasaan gestur atau kelenturan tubuh,
dan penguasan panggung yang meliputi blocking, cahaya dan bunyi atau sound
system. Tata artistik pementasan drama meliputi tata artistik rias wajah, tata
artistik busana, tata artistik cahaya atau lampu, tata artistik musik, dan tata
artistik suara (sound system).
Peran vital seorang sutradara terhadap keberhasilan suatu
pementasan drama adalah: memilih naskah bermutu, menentukan penafsiran naskah
yang tepat, memilih dan melatih pemain, dan bekerjasama dengan seluruh tim.
DAFTAR PUSTAKA
Faisal, M..2009. Kajian Bahasa Indonesia SD 3 SKS. Semarang: Seamolec.