Sabtu, 06 Juni 2015

CINTA ?

Cinta? 

hmmmm...
Mendengarnya pun ingin tahu
Bertemu pun terus teringat

Angin malam selalu membawa berita
Bersua lama dalam cinta
bercerita indah tentang cinta

Cinta...
dimana engkau berada?
apakah kau merindu?
apakah dirimu teringat?

Banyak kenanganmu di sini
tertinggal bersama debu
yang rindu akan belaian

Bukan masalah cinta datang terlambat
hanya saja terlambat terungkap
cinta yang dipandang sebelah mata
cinta yang tersia-sia



Selasa, 17 Maret 2015

PENGALAMAN MEMBUAT STOPMOTION

Sebelumnya aku ingin berbagi pengalaman tentang membuat stop motionku yang pertama. Disini awalnya aku hanya iseng-iseng membuat video stopmo untuk memberi hadiah kepada seseorang yang sedang berulang tahun. dalam pembuatan video ini , aku sama sekali tanpa belajar dan terjadi begitu saja secara otodidak. hanya dengan modal nekat terciptalah video ini. mungkin menjadi seseorang yang spesial sangatlah menyenangkan. semoga saja video stopmo inii menjadi video stopmo yang tak terlupakan. Aku hanya ingin video ini selalu menjadi hadiah yang tidak bisa dibandingkan dengan hadiah yang mahal sekalipun. karena dalam pembuatannya aku telah merelakan waktuku hanya untuk membuat video ini :') . Intinya dalam pembuatan stopmo yaitu niat dan sabar. kalo udah niat dari awal pasti pembuatan videonya cepet dan mesti sabar karena membuat video stopmo ga secepet kayak masak mie instan. Setiap gerakan harus difoto sedetail mungkin agar video yang dihasilkan bisa bagus. Lebih baik lg kalau kalian menfotonya pake tripod sehingga kesan kameranya ga gerak2. Demikian sedikit beberan aku tentan membuat stopmo. Untuk videonya bisa diklik link di bawah ini. Monggo dilihat dan dikomentari.  

Berikut beberapa foto hasil pembuatan





Senin, 10 Februari 2014

Identitas Nasional


IDENTITAS NASIONAL

 DEWI AYU ARISMAYA
1401413151


Istilah “identitas nasional” secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendidri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Jadi Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah, sistim hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi.
B. Unsur-Unsur Pembentuk Identitas Nasional
1. Suku Bangsa
Suku bangsa ialah golongan social yang khusus bersifat askriptif (ada sejak lahir) yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin di Indonesia, terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang dari 300 dialek bangsa populasi penduduk Indonesia.
2. Agama
Bangsa Indonesia di kenal dengan bangsa yang agamis, agama-agama yang tumbuh dan berkembang di nusantara adalah islam. Kristen, khatolik, hindu, budha, dan kong hu cu ,Agama kong hu cu pada awalnya diakui sebagai agama resmi bangsa, tetapi sejak Abdurahhman wahid jadi presiden ,istilah agama resmi dihapuskan.
3. Kebudayaan
kebudayaan merupakan patokan dari nilai-nilai etika dan moral ,baik yang tergolong ideal atau yang seharusnya, maupun yang operasional dan actual didalam kehidupan sehari-hari (ethos).
4. Bahasa
Bahasa merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain . Bahasa dipandang sebagai system perlambang yang secara arbiter dibentuk atas unsur-unsur bunyi maupun ucapan manusia dan juga digunakan sebagai sarana berinterinteraksi antar manusia. Baik secara lisan, tulisan ataupun gerakan (isyarat).
5. Sejarah
Indonesia adalah Negara yang begitu kaya akan nilai sejarah, itu dapat dibuktikan dari berbagai tulisan pakar tentang sejarah perjuangan dan usaha dalam merebut kemerdekaan. Sejarah juga mencatat, sebelum menjadi sebuah identitas negara bangsa yang Modern, bangsa Indonesia pernah mengalami masa kejayaan yang gemilang. Semangat juang bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah menurut banyak kalangan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi bangsa Indonesia yang kemudian menjadi salah satu unsur pembentuk identitas nasional Indonesia.

C. Pentingnya Identitas Nasional
Identitas nasional dan jati diri suatu bangsa harus dijaga agar bangsa tersebut tidak mudah dihancurkan oleh bangsa lain dan menjadi bangsa yang kuat. Identitas nasional dapat menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi diantara warga negara indonesia jika setiap warga negara menyadari dan mengimplementasikan nilai-nilai identitas nasional yang telah ada. Namun dalam kenytaan yang ada identitas nasional di negara ini mulai memudar. Kurangnya rasa nasionalisme dan rasa “satu indonesia” membuat identitas nasional negara ini menjadi kacau atau disebut krisis identitas nasional. Saat ini dapat kita lihat bahwa indonesia telah mengalami krisis identitas nasional. Banyak penduduk indonesia telah melupakan unsur unsur kebudayan yang merupakan basis dari identitas nasional suatu bangsa. Contohnya yaitu budaya barat yang masuk ke indonesia melalui globalisasi telah banyak mengubah pola hidup generasi muda saat ini, salah satunya yaitu melupakan kultur budaya bangsa indonesia sendiri. Saat ini bangsa Indonesia telah mengalami penurunan dalam hal identitas nasional, pandangan saya sendiri. Karena globalisasi yang ada masuk dalam budaya Indonesia sendiri. Budaya-budaya kita mulai luntur, tergeser oleh budaya-budaya barat yang modern serba prkatis dan bisa menggiurkan masyarakat-masyarakat Indonesia itu sendiri.
D. Pengertian Umum Nasionalisme
Kata nasionalisme terdiri dari kata nation (natal ) yang artinya kelahiran dan isme yang artinya paham, jadi dapat diberi kesimpulan bahwa nasionalisme menurut bahasa adalah paham kelahiran. Sedangkan menurut istilah nasionalisme adalah paham persaudaraan dan setanah air.
Kata nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa maupun nonfisik seperti keinginan, cita-cita dan tujuan. Nasionalisme juga dapat diartikan sebagai situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada Negara bangsa atas nama sebuah bangsa.munculnya nasionalisme terbukti sangat efektif sebagai alat perjuanagn bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman colonial.
E. Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang sepenuhnya mendasarkan diri pada nilai-nilai kemanusiaan (perikemanusiaan) yang hakiki dan bersifat asasi. Bertujuan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan setiap bangsa, untuk hidup bersama secara adil dan damai tanpa diskriminasi apa pun dalam hubungan-hubungan sosialnya. Persoalan menarik yang mengemuka dalam konteks ini adalah, sejauh mana komitmen kita sebagai generasi penerus bangsa dalam memelihara dan menjaga kemurnian esensi dan hakikat pemikiran nasionalisme Indonesia, serta dalam memaknainya pada konteks kekinian zaman.
Sejak lahirnya, nasionalisme Indonesia sudah menyatakan diri secara tegas sebagai anti-penjajahan (kolonialisme), anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme. Penegasan ini berangkat secara mendasar dari pengalaman objektif bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pernah terjajah dan dijajah selama lebih kurang tiga setengah abad. Penaklukan demi penaklukan, penindasan demi penindasan, berikut politik adu domba devide et impera dilakukan secara sistematis, untuk menguasai serta menguras sebanyak-banyaknya potensi sumber daya alam negeri ini. Inilah fakta sejarah yang dialami bangsa kita di masa lampau.
Berangkat dari fakta sejarah tersebut, para intelektual pendahulu kita selanjutnya menggali serta mengartikulasikannya dalam suatu rumusan sistematis saat menyusun dan membangun gerakan perlawanan modern terhadap penguasaan kolonial. Lahirlah pemikiran nasionalisme Indonesia sebagai wujud manifestasi penolakan terhadap sistem kehidupan kapitalis kaum penjajah. Singkatnya, semangat nasionalisme yang anti-kolonialisme, anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme.

Minggu, 09 Februari 2014

DEKLAMASI DAN PEMENTASAN KARYA SASTRA ANAK-ANAK


DEKLAMASI DAN PEMENTASAN KARYA SASTRA ANAK-ANAK
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD)
Dosen Pembimbing : Drs. Sukarir Nuryanto, M.Pd.
Disusun Oleh :

1.      DEWI AYU ARISMAYA                     1401413151
2.      ARTIKA RAHAYU                              1401413158
3.      RIO FAHRUDIN                                   1401413169
4.      TRI SUSILOWATI                                1401413172

Rombel 6


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013


Deklamasi dan Pementasan Karya Sastra Anak-Anak


PEMBUKA

A.    Latar Belakang
Deklamasi puisi merupakan suatu yang banyak dilakukan oleh seorang deklamator. Namun, belum banyak orang yang mengetahui perbedaan deklamasi dan membaca puisi. Serta unsur-unsur yang terdapat pada deklamasi puisi anak-anak. Pementasan adalah suatu yang sangat erat kaitannya dengan karya sastra anak-anak . Dalam mementaskan suatu karya sastra diperlukan teknik dalam mementaskannya serta penataan artistik yang tepat.
Materi ini menjadi modal awal bagi Anda yang ingin menjadi pengajar bahasa Indonesia yang baik di SD, karena dengan dikuasainya materi ini Anda telah memiliki kemampuan yang dapat mendukung tugasnya dalam membimbing anak didiknya sehingga semakin mahir mengapresiasi sastra anak-anak secara produktif. Selain itu, Anda akan semakin luas wawasannya tentang nilai-nilai pengalaman kemanusiaannya dan semakin tumbuh sikap positifnya terhadap sastra anak-anak. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari deklamasi?
2.      Apakah syarat mendeklamasikan puisi?
3.      Apakah pengertian drama?
4.      Apakah dasar-dasar pementasan drama Anak-anak

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari deklamasi.
2.      Untuk mengetahui syarat mendeklamasikan puisi.
3.      Untuk mengetahui pengertian drama.
4.      Untuk mengetahui dasar-dasar pementasan drama anak-anak




PEMBAHASAN
A.    Pengertian Deklamasi
Kata “deklamasi“ berasal dari bahasa Inggris “declamation” yang berarti penyuaraan sesuatu lewat suara. Secara umum, deklamasi merupakan suatu kegiatan membawakan atau menyampaikan puisi atau prosa secara lisan disertai mimik, intonasi, dan gerak jasmaniah yang wajar sesuai konteks makna larik atau yang dituturkan. Aspek-aspek tersebut harus saling menunjang dan atau saling melengkapi dalam menciptakan suasana deklamasi yang dapat memukau para penonton.
Junaedi (1989) mengemukakan beberapa perbedaan antara baca puisi dan deklamasi dari berbagai segi: (1) baca puisi si pembaca memegang naskah puisi sedang deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi, (2) pada baca puisi, jumlah dan panjang puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang daripada deklamasi, (3) pada baca puisi faktor suara/intonasi banyak berperan, sedang deklamasi disamping intonasi juga faktor mimik dan gestur atau gerak jasmaniah, (4) baca puisi relatif untuk diri sendiri dan orang lain, sedang deklamasi semata-mata untuk orang lain.

B.     Syarat Mendeklamasikan Puisi
Menurut Ali (1982) syarat yang harus dipenuhi seorang pembaca/deklamasi puisi adalah sebagai   berikut:
a.       Mempunyai kemampuan teknis
Kemampuan teknis yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pembaca atau deklamator  puisi yang baik adalah suara yang jelas, vokal yang sempurna, mahir membentuk irama, mampu mengubah warna suara secara dan menarik.
b.      Penguasaan mimik
Seorang deklamator harus memiliki kemampuan mengubah-ubah raut muka yang alamiah dan wajar sesuai makna larik atau bait puisi yang dideklamasikan, mimik marah, mimik takut, mimik terharu, mimik sedih, mimik, heran, dan sebagainya.
c.       Penguasaan gestur
Seorang pembaca atau deklamator puisi harus memiliki penguasan gerak anggota tubuh (gestur) secara reflek dan pantas sesuai isi larik puisi yang dideklamasikan. Fungsinya sebagai komplementer bagi pelafalan dan intonasi larik/baik yang dilantunkan.
d.      Penguasaan memahami puisi dengan tepat
Salah memahami isi suatu sajak yang dideklamasikan akan berpengaruh terhadap lafal-intonasi, mimik, dan gerak tubuh yang ditampilkan. Karena itu, seorang pembaca/ deklamator puisi harus memiliki kemampuan memahami isi, suasana, sikap pengarang yang tersembunyi dalam puisi yang di deklamasikan

1.      Deklamasi dan Unsur Penilaiannya
Menilai dan menentukan suatu deklamasi yang baik perlu memperhatikan berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut, menurut Ali (1984) meliputi aspek interpretasi dan presentasi. Interpretasi meliputi: visi, artikulasi, dan intonasi, sedang presentasi meliputi: vokal, gestur atau gerak, tekanan, volume suara, ekspresi mimik. Sedangkan menuurut Aminuddin (2004) bahwa aspek-aspek yang diiperhatikan dalam menilai suatu deklamasi adalah (1) aspek pemahaman dan penghayatan tentang makna, suasana penuturan, sikap pengarang, dan intensi pengarang, (2) aspek pemaparan yang meliputi: kualitas ujaran, tempo, durasi, pelafalan, ekspresi wajah., kelenturan tubuh, dan konversasi. Berikut Unsur penilaian deklamasi puisi :
a.       Pelafalan
Pelafalan yang dimaksud adalah pelafalan bunyi vokal, konsonan secara tepat, misalnya makan tidak diucapkan makang tetapi makan, cepat tidak dilafalkan cepa’ tetapi cepat, kemana tidak dilafalkan kEmana tetapi kemana, kiri tidak dilafalkan keri tetapi kiri dan sebagainya. Di samping itu, pelafalan menyangkut pula dengan masalah kejelasan, yakni pelafalan bunyi vokal, konsonan, dengan volume suara yang jelas dan sempurna, misalanya vokal /o/ dilafalkan denga suara yang keras atau jelas serta dengan bentuk mulut yang tidak setengah bundar.
b.      Intonasi
Intonasi yang dimaksud kaitannya dengan deklamasi puisi bukan hanya berkaitan dengan aspek panjang pendeknya suara (tempo), tinggi rendahnya suara (nada) melainkan juga termasuk keras lembutnya suara (tekanan) dan perhentian suara sejenak (jeda) pada saat mendeklamasikan larik atau bait puisi. Keseluruhan aspek tersebut tentu nampak secara keseluruhan sebagai suatu komponen yang saling berhubungan secara utuh.
c.        Ekspresi Wajah (mimik)
Mimik adalah perubahan raut wajah sesuai konteks makna dan suasana puisi atau prosa yang dibaca. Penampakan mimik yang tepat merupakan cerminan dari tingkat pemahaman dan penghayatan makna dan suasana penuturan, dan sikap pengarang karya sastra tersebut. Ekspresi wajah (mimik) dalam deklamasi sastra dapat terdiri atas beberapa macam, antara lain, mimik sedih, mimik marahh/tegas, mimik gembira, dan sebagainya.
d.      Gestur (kelenturan tubuh)
Yakni kemampuan pembaca menguasai anggota tubuh dalam menggerakkannya secara lentur, refleks namun kelihatan wajar dan alamiah sebagai sarana penunjang. Gestur atau gerak jasmaniah harus selalu sejalan dengan pemaparan intonasi dan perasaan pembaca, misalnya saat membaca larik puisi gunung yang tinggi, tangan menunjuk ke atas secara lentur dan refleks, pada saat membaca larik /sungai yang berkelok-kelok/ tangan bergerak berkelok-kelok secara lentur dan refleks dan sebagainya
e.       Konversasi
Berdeklamasi di hadapan khalayak penonton secara langsung menurut Aminuddin (2004) pada hakikatnya sedang berkomunikasi dengan penikmat itu sendiri. Olehnya itu, deklamator selayaknya memperhatikan sikap yang dapat menumbuhkan suasana simpatik dan keakraban antara dirinya dengan khalayak penonton, misalnya penciptaan kontak lewat pandangan mata, pengaturan posisi tubuh, pengaturan gerak-gerik tubuh secara wajar.

Contoh Deklamasi Puisi
            Di Kala Kuberdoa
                               Elviani
Dikala kuberdoa
Ada rasa damai di hati
            Di kala kuberdoa
            Air mata ini jauh
            Satu-satu di pipi
Di kala kuberdoa
Kusadari siapa diriku
Tidak putih, Tuhan
            Ketika kuberdoa
Kudengar bisikanmu menyejukkan
Sekan menghapus keresahan hatiku
Terima kasih Tuhan
Atau kasih saying-Mu padaku
Dengan memperhatikan secara kritis puisi di atas, maka berikut dipaparkan hal hal yang perlu diperhatikan saat membaca puisi diatas, khususnya dari segi intonasi, mimik, gestur tubuh, dan konversasi.
1.      Pembaca puisi “Di Kala Kuberdoa” dominan menggunakan intonasi sedih: tempo lambat, nada rendah, dan tekanan dinamik yang lembut
2.      Pembacaan puisi “Di Kala Kuberdoa” menggunakan mimik sedih pada bait kedua, ketiga, keempat, dan mimic gembira pada bait pertama dan larik kedua bait ke empat
3.      Gerak refleks anggota tubuh saat mendeklamasikan puisi di atas adalah saat membaca

C.    Pementasan Drama
1.      Pengertian Drama
            Drama adalah suatu genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang tujuannya bukan untuk dibaca melainkan untuk dipertunjukkan oleh aktor di atas pentas. Drama sebagai salah satu karya sastra, oleh Sumardjo (1984) memiliki unsur-unsur: tema, plot, latar, karakter, dialog, pembagian waktu, efek, dan retorika. Namun demikian Japi Tambojang (dalam Tjahyono dan Setiawan, 1998: 6.3) menyatakan bahwa secara teknis naskah drama dibangun dua komponen penting yaitu wawancang dan kramaagung.
·         Wawancang adalah suatu percakapan yang harus dihapal oleh aktor yang disertai pemahaman intonasi yang tepat.
·         Kramagung merupakan instruksi yang membantu aktor untuk berakting di atas panggung dengan tepat sekaligus sebagai rambu-rambu atau petunjuk bagi penata panggung mempersiapkan tempat pementasan yang sesuai latar adegan atau babak yang akan dipentaskan. Misalnya :
LISWATY DUDUK DI KURSI BELAKANG. IA ADALAH GADIS JELITA, BERUSIA SEKITAR 20 TAHUN, MENGENAKAN PAKAIAN DAN DANAN MUTKHIR. TAS DAN SATU EKS BUKU DIKTAT YANG DIBAWA, RTERLETAK DI KURSI KIRI. SEKARANG IA SEDANG MEMBACA KORAN SAMBIL SESEKALI MENOLEHH ARAH PINTU BELAKANG. KEMUDIAN SAPARI MUNCUL DAR IP INTU BELAKANG DENGAN TERSENYUM. IA BERUSIA SEKITAR 27 TAHUN UMURNYA...
Lisawaty     : “Bagaimana si Orok. Tak perlu bantuanku, bukan?”
Sapari          : “O, tidak Dsudah beres. Tidur pulas ia sekarang. Jadinya lega aku.”
Lisawaty     : “Tak kusangka engkau seterampil itu.”
Sapari          : (MELANGKAH KE KURSI DEKAT MEJA) “Ucapan orang bijaksana memang selalu benar.”
 (Drama Pendek“Tanpa Pembantu”, oleh A.Adjib Hamzah, 1985)

Naskah yang ditulis dengan huruf kapital dan dalam kurung disebut kramagung sedangkan yang bagimana naskah yang ditulis dengan huruf kecil disertai tanda petik adalah contoh wawancang atau dialog.
2.      Teknik Mementaskan Drama
a.       Teknik Muncul
      Cara pemain memunculkan diri pada saat tampil pertama kalinya di atas pentas dalam satu drama babak, atau adegan. Pemunculan tersebut memberi kesan pada para penonton sesuai peran yang dimainkan.
b.      Teknik Memberi Isi
      Pengucapan suatu kalimat dengan penekanan makna tertentu melalui tempo, nada, dinamik, misalnya :
DIA sangat baik padaku (bukan saya atau mereka)
Dia SANGAT baik padaku (bukan kurang atau cukup)
Dia sagat BAIK padaku ( bukan tidak baik )
Dia sangat baik PADAKU (bukan orang lain tapi padaku)
Teknik ini harus terpadu dengan teknik jasmaniah seperti mimik, sikap, gerak anggota  adan lainnya (gestur)
c.       Teknik Pengembangan
      Teknik membuat drama bergerak dinamis menuju klimaks atau drama tidak datar. Teknik terbagi atas beberapa teknik :
                                            i.            Teknik pengembangan pengucapan: seperti menaikkan volume suara atau sebaliknya, menaikkan tinggi nada suara atau sebaliknya, menaikkan kecepatan tempo suara atau sebaliknya.
                                          ii.             Teknik pengembangan jasmaniah, yakni
§  Menaikkan posisi jasmaniah, dari duduk menjadi berdiri lalu berjongkok dan seterusnya
§  Dengan cara memalingkan kepala, tubuh atau seluruh tubuh
§  Dengan cara berpindah tempat dari kiri ke kanan , dari belakang ke depan, dan sebagainya.
§  Dengan cara menggerakan anggota badan tanpa berubah tempat seperti menggerakkan kaki atau jari
§  Dengan ekspresi wajah (mimik) untuk mencerminkan emosi tertentu, misalnya mata sendu, muram untuk mengekspresikan kesedihan dan sebagainya.
d.      Teknik Timing
      Teknik ini merupakan ketepatan hubungan antara gerakan jasmaniah dengan kata -kata atau kalimat yang diucapkan dalam waktu yang singkat atau sekejap, misalnya :
·         Bergerak sebelum mengucapkan kata-kata tertentu, seperti menepuk kepala “aku lupa, maaf ! ”
·         Bergerak sambil mengucapkan sesuatu seperti menupuk kepala mengucapkan “aku lupa, maaf ! ”
·         Bergerak setelah mengucapkan sesuatu seperti “aku lupa, maaf ! ” lalu menepuk kepala.

e.       Teknik Penonjolan
      Penonjolan isi merupakan teknik dimana seorang pemain harus memahami pada bagian mana suatu kalimat yang perlu ditonjolkan pada saat diucapkan.

D.    Dasar-dasar Pementasan Drama anak-anak
            Junaedi (1989) dan Ramelan (1982) mengemukakan beberapa dasar-dasar pementasan yang perlu dikuasai. Dasar-dasar tersebut sebagai berikut :
a.        Penguasaan Vokal
            Seorang calon pemain drama harus menguasai pelafalan bunyi konsonan dan vokal sesuai artikulasinya secara tepat dan sempurna. Disertai suara yang jelas dan keras.. Penguasaan vokal ini biasanya di tempat terbuka untuk mengulang-ulang vokal tertentu sampai sempurna pengucapannya.
b.       Penguasaan Mimik.-Intonasi Dasar
            Seorang calon pemain harus menguasai mimik dasar seperti mimik sedih, gembira, dan marah. Mimik marah biasa ditandai dengan mata melotot, muka kemerah-merahan, kening berkerut, mimik sedih ditandai dengan wajah muram, pandangan mata sayu, dan mulut tertutup, sedang mimik gembira ditandai muka yang bercahaya, mata bersinar, dan mulut terseyum. Di samping mimik harus pula menguasai intonasi dasar sedih (tempo lambat-nada rendah- tekanan lembut), intonasi marah (tempo cepat- nada tinggi- tekanan keras), dan intonasi gembira (tempo-nada-tekanan bersifat sedang). Mimik dan intonasi sangat mendukung peran yang dimainkan.
c.        Penguasan Kelenturan Tubuh
            Tubuh seorang pemain drama harus lentur atau elastis sehingga dalam memainkan peran tertentu tidak kelihatan kaku. Untuk mencapai penguasaan tubuh yang elastis, perlu melakukan serangkaian gerakan seperti berlari cepat dalam jarak dekat, bolak balik ke utara, selatan, timur, barat, ke segala penjuru. Berjalan dengan menggambarkan perasaan sedih, jalan kepayahan membayangkan berjalan di padang pasir hingga jatuh bergulingan, dan seterusnya.
d.         Penguasaan Pemahaman Watak Peran
                  Suatu peran menjadi hidup bila aktornya memiliki penguasaan pemahaman dan penghayatan watak peran yang tepat. Untuk memperoleh pemahaman watak peran yang tepat, perlu mengadakan analisis peran berdasarkan naskah, seperti memahami alur cerita, pengenalan, permasalahan, klimaks , dan penyelesaian lalu mencatat peran yang akan dimainkan. Selanjutnya, mencatat secara lengkap tentang umur, pekerjaan, lingkungan kesehatan, latar belakang keluarga, tingkat pendidikan dan kepribadian peran yang akan dimainkan. Watak tersebut dibayangkan sedalam-dalamnya sehingga pada saat memainkan peran tersebut, watak pribadi aktor terganti dengan watak peran yang semestinya diperankan.
e.         Penguasaan pemanggungan
           Penuguasaan pemanggungan sebagai suatu yang harus dimiliki oleh setiap pemain dama, antara lain berkaitan dengan:
·      Teknik muncul pada saat pertama kali aktor tampil di panggung sesuai peran yang dimainkan. Pemunculan itu berfungsi memberi kesan simpati bagi penonton;
·      Bloking, yakni penguasaan masing-masing aktor tentang daerah gerakannya di atas panggung sehingga panggung kelihatan tak berat sebelah;
·      Penguasaan cahaya dan bunyi, yakni aktor perlu penguasaan menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya dan bunyi(sound system) di atas panggung.

1.      Tata Artistik Pementasan Drama
a.       Musik merupakan iringan ilustrasi yang mengatur suatu adegan / babak sehingga                   peristiwa yang digambarkan semakin hidup dan menarik penonton.
b.      Tata rias wajah merupakan salah satu bagian yang membantu mengubah aktor muda memerankan aktor yang kelihatan tua, atau sebaliknya. Aktor yang sehat, kelihatan sakit, dll.
c.       Busana merupakan salah satu bagian yang membantu memberikan nilai keindahan, efek visual yang menarik saat pementasan.
d.      Cahaya merupakan salah satu bagian yang membantu permaianan dalam menggambarkan peristiwa tertentu, seperti malam, siang, sore, selain itu dapat membantu pada saat menjelang memasuki pembukaan lampu panggung padam saat layar ditutup.
e.       Suara (soundsystem). Dengan seni artistik yang baik, suara musik, dialog pemain akan terdengar jernih, jelas, dan menarik.

2.      Sutradara dan Pementasan Drama
a.       Peran sutradara yaitu:
Memilih naskah bermutu. Sutradara memilih naskah bermutu dengan berlandaskan pada: nilai filsafat, yakni naskah tersebut mengandung perenungan hakiki.
·         segi artistik, yakni naskah tersebut memiliki nilai estetis yang tinggi.
·         segi etishumanistik, yakni naskah tersebut memiliki niali moral yang dapat memperkaya rokhani penonton.
·         segi komersil yakni naskah memiliki daya minat yang mampu memancing penonton.
b.       Menentukan penafsiran naskah
Naskah yang akan dipentaskan harus sesuai keinginan penafsiran sutradara berdasarkan naskah. Semua akting dan dialog merupakan anjuran atau persetujuan sutradara karena berhasil atau gagalnya banyak ditentukan oleh kreatifitas, etos kerja, dan tanggungjawabnya.
c.       Memilih aktor
Berdasarkan hasil penafsiran terhadap naskah, sutradara memilih dan menentukan aktor sesuai postur tubuh, umur, dan jenis kelamin serta keahlian tokoh yang diinginkan dalam naskah.
d.      Melatih aktor
Setelah memilih aktor, tugas sutradara adalah menentukan jadwal latihan untuk melatih aktor . Kepiawian aktor dalam memainkan peraan yang diembannya sebagai prapementasan final.
e.       Bekerja sama dengan tim
Sutradara juga harus mampu menentukan tim yang dapat membantunya mempersiapkan tata artistik : sinar, rias wajah, busana, musik, panggung. Tim tersebut harus mempunyai jiwa kreatif dan semangat kerja yang tinggi.

Contoh drama :
Penyesalan Rio
Tokoh  :
·         Rio sebagai adik
·         Raka (aku dalam cerita sebagai kakak)
·         Bibi, Ibu, dan Ayah
Babak I
Disebuah ruangan di rumah sakit, tampak Rio tidur pada sebuah tempat tidur yang diberi seperei berwarna putih, dan selimut berwarna hijau. Di sebelah kiri atas tempat tidur terdapat meja kecil yang berhias bunga. Di sebelah kanan atas tempat tidur terdapat sebuah meja kecil yang berisi sekeranjang buah-buahan. Ruang tersebut disekat dengan kain berwarna hijau.
Rio terbaring di tempat tidur. Di sampingnya berdiri seorang perawat yang baru saja selesai mengukur suhu tubuhnya. Dari pintu, masuk bibi dan Raka dengan membawa bungkusan buat Rio.
Bibi     :”Hai Rio! Bagaimana, sudah makin baik?” (tangannya mengusap tangn Rio)
Rio      :”Lumayan Bi!”
Raka    :”wah, kamu kelihatan sudah sehat! Sebentar lagi bias pulang, ya! Nih, kakak bawakan    sangkis buah kesukaan kamu!” (Raka menuju meja penyimpanan bawaannya)
Rio      :”Bi, maafkan Rio ya!”(memelas)
Bibi     :”lho, memang mengapa? Sudah, kamu jangan punya pikiran yang bukan-bukan, biar cepat sembuh!”
Rio      :”Iya, Bi! Tapi Bibi memaafkan Rio, kan?”
Bibi     :”Bibi sangat sayang kepadamu, sebelumkau minta, Bibi sudah memaafkanmu!”
Raka    :”bagaimana ? Apa sekarang masih akan tidur dengan kucing?”
Rio      :”No way!” (sambil menggerakkan telapak tangannya menyatakan tidak)
Raka    :”Bagus, kamu memang anak  yang baik!” (bibi tersenyum memandang dua anak beradik itu dengan penuh sayang)
Raka    :”kucingmu boleh tetap dipelihara, asalkan tidak di ajak bermain didalam dan diajak tidur“.
Rio      :”Walaupun aku tetap saying sama kucing tapi sekarang kucingku harus tidur dirumah-rumahnya. Dan bibi tak usah segan mengepruknya ke luar, jika kucing itu masuk rumah kita”(sambil memandang kea rah Bibi).
Bibi     :”Iya, saying! Sekarang, Rio tidur, ya! Bibi dan Raka harus segera pulang sepaya tidak kemalaman”. (mengusap kepala Rio).
Raka    :Ayo, (tangannya melakukan salam tepuk dengan adiknya) kak pulang dulu, ya!”
Rio      :”Ya,…..”Terima kasih, Bi, Kak!”

Babak II
            Di sebuah ruang tengah seorang ayah dan seorang ibu sedang duduk beristirahat. Ayah tampak membaca. Di atas meja terhidang teh hangat dan kue.
Ayah   :”Bagaimana belajar anak-anak, Bu?”
Ibu       :”Bagus Pak! Malah sekarang mereka juga sedang (Rio dating menghampiri orang tuanya, sambil mengelus seekor kucing)”
Rio      :”Bibi nakal, Bu! Kucing Rio selalu dipukul sapu lidi, dan tak boleh ke dalam”.(ayah melihat kearah Bibi menggerakkan tangannya )
Ayah   :”Ada apa lagi, sudah ke sana! (mengibaskan tangannya ).
Bibi     :”Kak, sekarang kucing itu berak, mengotori rumah ini!”
Ayah   :”Apa! Berak?” ( Ayah melihat kearah rio )
Ayah   :”Coba lihat tanganmu kucing itu pasti belum bersih!”
Rio      :”ini”.( sambil memperlihatkan tangannya)
Ayah   :”Nin, Dimana beraknya kucing itu?”
Bibi     :”Disana !Di kamar Rio dan koridor, lihatlah !”
Ibu       :”Kucing berak, malah nyuruh kakakmu melihatnya! Gimana kamu ini?” ( marah )
Ayah   :”Bersihkan kotoran itu!”( bangkit, meninggalkan ruangan diikuti dengan Bibi )

Babak III
            Di sebuah ruangan di rumah sakit. Dekorasi sama dengan babak satu. Ditambah dengan kopor kecil yang diletakkan di atas tempat tidur. Rio duduk bersama Ibu, disaksikan Raka dan Bibi.
Raka    :”wah sekarang sudah siap untuk tidur dengan si Meng lagi nih!”( tersenyum sambil melihat Rio )
Rio      :”Jangan gitu, Kak. Rio kan sudah janji pada Bibi, kaka, dan diriku sendiri. Tidur sama kucing. No way! No way ! ( semua tertawa )
Raka    :”Benar kamu sudah janji dan sampai dalam hati?”
Rio      :”Kak jangan ragu, insyallah akan saya buktikan nanti!”
Rio      :”Terima kasih, kalau adik sudah sadar!”
Ayah   :”Mari kita pulang ke rumah, nak!” (wajah mereka tampak bahagia)

(Karya Mien R. dalam Apresiasi Drama anak-anak, 2000)

PENUTUP
A.    Simpulan
Deklamasi puisi atau prosa anak-anak merupakan suatu kegiatan penyampaian sajak atau prosa melalui suara secara langsung atau secara lisan di depan khalayak. Syarat yang perlu dipenuhi untuk menjadi pembaca puisi yang baik adalah kemampuan teknis, gestur tubuh yang wajar, penguasaan mimik, dan pemahaman isi sajak. 
Unsur-unsur yang dinilai dalam deklamasi puisi adalah (1) aspek pelafalan atau volume suara yang sempurna, (2) intonasi yakni penuturan suatu larik atau kalimat yang di dalamnya merangkaikan secara harmonis antara tempo, nada, tekanan sesuai konteks makna kalimat/larik yang dilafalkan, (3) mimik yakni perubahan raut wajah atau ekspresi wajah sesuai konteks makna larik/kalimat yang mendukung intonasi yang dituturkan, (4)  gestur yakni gerak tubuh secara refleks dan wajar sesuai konteks makna  larik/kalimat untuk mendukung mimik yang dipaparkan, (5)  konversasi adalah sikap deklamator di atas pentas yang dapat menumbukan keakraban  dan simpati para penonton.
Drama adalah suatu cerita konflik tentang kehidupan manusia yang  ditulis dfalambntuk dialog. Secara teknis unsure drama meliputi wawancang atau dialog dan kramagung yang merupakan pentunjuk bagi aktor , penata panggung, dan sutradara melaksanakan tugasnya dengan baik. Beberapa teknik yang perlu dipahami setiap calon aktor agar dapat tampil di pentas dengan baik, yakni: teknik timing, teknik muncul, teknik penonjolan isi, dan teknik pengembangan.
Di samping itu, seorang calon aktor perlu pula memiliki penguasaan vokal, penguasaan mimik, penguasaan gestur atau kelenturan tubuh, dan penguasan panggung yang meliputi blocking, cahaya dan bunyi atau sound system. Tata artistik pementasan drama meliputi tata artistik rias wajah, tata artistik busana, tata artistik cahaya atau lampu, tata artistik musik, dan tata artistik suara (sound system).
Peran vital seorang sutradara terhadap keberhasilan suatu pementasan drama adalah: memilih naskah bermutu, menentukan penafsiran naskah yang tepat, memilih dan melatih pemain, dan bekerjasama dengan seluruh tim.


























DAFTAR PUSTAKA

Faisal, M..2009. Kajian Bahasa Indonesia SD 3 SKS. Semarang: Seamolec.