Selasa, 03 Desember 2013

TUGAS KULIAH PSIKOPER

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENCAPAIAN TUGAS  PERKEMBANGAN DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN
MAKALAH




Disusun untuk memenuhi tugas diskusi kelas mata kuliah Psikologi Perkembangan
Dosen Pembimbing : Drs. H.A. Zaenal Abidin, M.Pd.
Disusun oleh :
1. Dewi Ayu A.          ( 1401413151 )
2. Diah Juliawati         ( 1401413155 )
3. Lekha Zubaida        ( 1401413182 )
4. Rizki Dwi S            ( 1401413195 )

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh kembang menjadi manusia yang lebih utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi. Dengan mempelajari perkembangan hubungan sosial diharapkan dapat memahami pengertian dan proses sosialisasi peserta didik. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia enambulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain,seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu yang unik. Baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat, nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja untuk bersosialisasi lebih akrab dengan lingkungan sebaya atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan atau percintaan. Pada masa ini berkembangan sikap cenderung menyerah atau mengikutiopini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran, keinginan orang lain. Ada lingkungan sosial remaja (teman sebaya) yang menampilkan sikap dan perilaku yang dapat dipertanggung jawabkan misalnya: taat beribadah, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain.Tapi ada juga beberapa remaja yang terpengaruh perilaku tidak bertanggung jawab teman sebayanya, seperti : mencuri, free sex, narkotik, miras, dan lain-lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial yang tepat dalam arti kemampuan untuk mereaksi secara tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. 

B.     Rumusan Masalah
1.      Faktor apa sajakah yang mempengaruhi pencapaian tugas perkembangan ?
2.      Bagaimana implikasinya dalam pendidikan ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi  Pencapaian Tugas Perkembangan
a.    Faktor Hereditas
              Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak yang diturunkan melalui gen disebut hereditas. Faktor itu adalah bentuk sifat-sifat atau karakteristik yang menentukan batas-batas perkembangan anak walaupun tidak mutlak. Dengan kata lain sifat yang dibawa sejak lahir atau melalui hereditas menjadi cetak biru perkembangan anak tersebut. Dengan mengetahui cetak biru perkembangan anak, sehingga kita tidak menuntut diluar perkembangannya.

Ø  Sifat-sifat yang diturunkan secara hereditas
Ada dua jebis sifat yang diturunkan secara hhereditas yaitu sifat intelektual dan temperamen. Masing-masing anak mewarisi kualitas intelektual dan temperamen yang berbeda-beda.
a)      Potensi Intelektual
Setiap orang dilahirkan  dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. Dan ketika didalam kelas dijumpai anak yang secara potensial memiliki kualitas intelektual yang tinggi, sedang, rendah. Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ (Segal, 1997:14)
            Menurut Gardner dalam teori Multiple Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistic, music, matematik logis, visual special, kinestetik fisik, social interpersonal dan intrapersonal.
1)      Di sekolah dasar akan ditemui anak “dull normal” dengan IQ 80-85. Kemampuan berpikir anak ini berada dibawah kemampuan berpikir anak normal (IQ 85-115). Anak berkemampuan rendah dapat memasuki sekolah dasar, tetapi memiliki bimbingan khusus. Anak-anak sekolah dasar yang memiliki potensi intelektual diatas normal ( anak superior IQ 120-130 ) menurut Terman (1959) cenderung mempunyai cirri-ciri kemampuan belajar sebagai berikut:
a.       dapat menggunakan kata-kata secara cepat.
b.      Mempunyai perkembangan bahasa yang baik, sehingga dapat mengulang dengan baik segala sesuatu yang bersifat verbal.
c.       Memiliki pengamatan dan perekaman yang jelas tentang obyek yang diamati
d.      Mempunyai ketrampilan yang dapat dibanggakan dalam bidang seni kalau dilatih
e.       Suka kepada buku-buku, kamus ataupun ensiklopedia
f.       Cenderung ntuk merasa bosan dengan tugas rumah, tetapi mereka senang belajar mandiri.
      Anak-anak superior hanya dapat dilayani oleh guru yang benar-benar professional, kalau tidak mereka akan mengalami kegagalan dan kekecewaan. Untuk melayani anak-anak yang berkemampuan intelegensi normal, tinggi atau superior, sebaaiknya mereka dibiarkan tetap mengikuti jenjang kelasnya, dan diberikan pengayaan yang bersifat pendalaman dengan cara memberikan tugas tambahandallam pokok bahasan. Dengan demikian anak akan tetap menampilkan prestasi dan hubungan social tidak terganggu.
b)      Temperamen
            Temperamen merupak sifat emosi dan social. Yang dibawa sejak lahir, yang bukan merupakan hasil belajar. Yung (Page, 1947) mengemukakan bahwa ada dua jenis temperamen, yaitu introvert dan ekstrover.
Anak sekolah dasar yang memiliki temperamen introvert cenderung menampakkan sifat sbb:
1)      Pendiam
2)      Sukar memulai hubungan dengan orang lain
3)      Cenderung menilai secara subjektif
4)      Mudah tersinggung
5)      Emosi yang dingin
Anak yang memiliki temperamen ekstrover menampakkan tingkah laku sbb:
1)      Mudah bergaul, banyak berbicara dan ramah
2)      Mudah membina keakraban dengan anak lain
3)      Cenderung melakukan pertimbangan yang bersifat objektif
4)      Tabah, tidak mudah tersinggng
5)      Emosi yang hebat, periang
Ø  Prinsip-prinsip penurunan sifat melalui herediitas
Prinsip-prinsip hereditas dikemukakan oleh seorang ahli yang bernama Francis Galton sbb:
ž Prinsip Reproduksi
Sebagai contoh, seorang anak dokter ahli bedah yang sangat cekatan tidak akan mewarisi kecekatan ayahnya dalam pembedahan melalui hereditas. Hal ini disebabkan kecekatan pembedahan itu merupakan hasil belajar.
ž Prinsip Konformitas
Setiap jenis menurunkan jenis. Bahwa manusia tidak akan menurunkan anak binatang atau anak yang memiliki sifat sebagai binatang. Prinsip ini memiliki implikasi pada guru, bahwa murid yang dihadapi adalah anak manusia. Dalam mendidik mereka, sifat kemanusiaan harus dihormati dan dikembangkan dengan pantas. Oleh karena itu mereka mampu berppendapat, beride dan mencari solusi asal mereka diberi kesempatan dan bimbingan.
ž Prinsip Variasi
Kombinasi sifat dalam gen yang berasal dari ibu dan ayah menghasilkan perbedaan sifat pada masing-masing anaknya. Dari prinsip ini, guru hendaknya mendapat pemahaman bahwa setiap anak memiliki sifat dan kemampuan berbeda walaupun mereka saudara kandung. Guru harus menerima anak sebagaimana adanya dan memberi layanan sesuai kebutuhannya.
ž Prinsip Regresi Fillial
Orang tua memiliki sifat-sifat kejiwaan diatas kualitas sifat kejiwaan pada umumnya, cenderung melahirkan anak dengan kualitas kejiwaan dibawah kejiwaan sendiri. Demikian sebakiknya.

b.   Faktor Lingkungan
              Lingkungan pendidikan kini dipengaruhi oleh lingkungan global yang merupakan berbagai pengaruh eksternal dalam dinamika berbagai aspek kehidupan di dunia. Lingkungan global yang mengandung pengertian tereksposnya kita oleh kehidupan komunitas global menurut adaptasi masyarakat kita pada kondisi global dan pada gilirannya menuntut adaptasi individu untuk mengembangkan  potensi yang dimiliki. Pengaruh lingkungan dibagi menjadi dua, yaitu:
v  Lingkungan non Sosial
a.    Gizi
Anak akan mencapai tugas perkembangan dengan baik kalau kebutuhan fisiknya terpenuhi. Ada beberapa pengaruh yang buruk terhadap perkembangan mental anak jika ia kekurangan gizi, sebagaimana dikemukakan oleh Sutton Smitch (1973) sbb:
a)      Gangguan emosi
Mereka tidak dapat berekspresi bahagia, cendetung sedih, dingin,, dan tidak mudah tersentuh perasaannya. Akibatnya menjadi sikap menyendiri dan kurang mampu bergaul, mengakibatkan kurang bergaurah dalam belajar.
b)      Kemampuan mental rendah
Kekurangan gizi khususnya vitamin A,B,C,D, dan kalsium menyebabkan kemampuan mental terganggu. Mulai dari penyakit mata, anak kurang bersemangat, serta sulit memusatkan perhatian dalam belajar (Hutcing dan Gibbon, 1971).
c)      Pertumbuhan syaraf otak yang kuurang sempurna
Murid sekolah dasar yang mengkonsumsi gizi rendah semenjak masa konsepsi (dalam kandungan), pada umumnya memilki kemampuan mental rendah, termasuk lambat belajar, emosi kurang bahagia, pemarah.
d)     Ketegangan psikologis
Kekurangan gizi dapat juga menimbulkan ketegangan psikologi anak. Keadaan innilah yang membentuk interaksi interaksi social anak yang kurang baik dengan lingkungann sekitar.
b.   Suasana  Lingkungan
Suasana lingkungan turut  mempengaruhi perkembangan anak. Siswa yang terbiasa mendengar suara bising yang terus menerus dapat mengganggu pendengaran anak. Akibatnya, anak kesulitan menerima tekanan bahasa yang halus.

v  Lingkungan Sosial
Lingkungan social adalah adalah tempat terjadinya hubungan social antar manusia. Pada pembahasan berikut ini dkemukakan pengaruh lingkunga terhadap perkembangan.
a)      Keluarga
Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak. Cara pendidikan yang digunakan oleh orang tua sangat  berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang demkratis, barangkali akanmenyesuaikan dan aktif secara social. Pendidikan orang tua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan orang tua dan saudara, bimbingan orang tua, dukungan orang tua, sangat mempengaruhi prestasi belajar anak.
b)      Sekolah
Suasana sosial-emosional dalam kehidupan ekademis sekolah sangat mempengaruhi proises belajar anak. Penelitian oleh Boyutton, Daggu dan Turner (Stagner, 1961) menunjukkan bahwa jika guru selalu dalam ketegangan psikologis (pemarah, pengomel, cerewet) menyebabkan murid meniru tingkah laku guru.
Tempat (gedung sekolah), kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam proses belajar.
c)      Teman Sebaya
Anak sekolah dasar lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya dari pada dengan orang tuanya.
Pengaruh kelompok tidaklah selalu baik, yaitu apabila nilai-nilai kelompok tidak sesuai denagn norma yang dijunjung tinggi keluarga. Oleh karena itu, tugas orang tua dan guru adalah mengadakan pendekatan terhadap kelompok teman sebaya untuk membimbing sesuai dengan norma yang berlaku.
d)     Masyarakat
Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan bermoral baik, maka anak juga akan melakukan tindakan  yang baik pula. Salah satu contoh yang konkret adalah pembentukan kelompok belajar pada suatu kompleks di perumahan. Hal ini dapat sebagai pemicu anak untuk lebih giat belajar. Penerimaan dan penghargaan secara baik masyarakat terhadap diri anak, mendasari adanya perkembangan sosial yang sehat, citra diri yang positif, dan rasa percaya diri yang mantap bagi anak akan menimbulkan persepsi yang positif, sehingga anak lebih partisipatif dalam kehidupan social.
e)      Lingkungan Sekitar
Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, dan iklim juga dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.
Dari sekian banyak faktor yang harus diperhatikan, tentu tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara keseluruhan dan sempurna. Tetapi untuk memenuhi kesempurnaan bukanlah faktor yang mustahil untuk dilakukan, apabila dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh dan maksimal.

B.     Implikasinya dalam Pendidikan
a.              Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan non akademik melalui perkumpulan misalnya: penggemar olah raga, tari, nyanyi, dll.
b.             Menolong siswa mendapatkan pendidikan yang berguna semacam persiapan untuk melaksanakan pekerjaannya.
c.              Siswa yang lambat perkembvangan jasmaninya diberikan kesempatan berlomba dengan kelompoknya sendiri. Perlu diberikan penjelasan melalui bidang studi biologi dan ilmu kesehatan, bahwa peserta didik sedang terjadi perubahan jasmani yang bervariasi. 
BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak terbagi menjadi dua:
1.      Faktor heriditas
Faktor heriditas ditentukan oleh,
a)      Sifat yang diturukan secara heriditas
Sifat-sifat ini meliputi kualitas intelektual dan temperamen.
b)      prinsip penurunan sifat
Ø  Prinsip reproduksi
Ø  Prinsip konformitas
Ø  Prinsip variasi
Ø  Prinsip regresi filial
2.      Faktor lingkungan
Lingkungan dibedakan menjadi dua:
a)      Lingkungan non sosial
Lingkungan non sosial dipengaruhi oleh gizi dan suasana lingkungan
b)      Lingkungana sosial
Hal yang mempengaruhi lingkungan sosial seorang anak antara lain : keluaraga, sekolah, masyarakat, teman sebaya, dan lingungan sekitar
B.     Saran
Dengan guru mengetahui faktor perkembangan anak,diharapkan pada masa yang akan datang guru akan dengan tepat menangani peserta didik dengan kemampuan intelektual, status sosial, ekonomi yang berbeda-beda. Karena dengan mengerti hal tersebut, guru akan lebih profesional dalam menerapkan pembelajaran yang ada. Semoga perubahan besar ke arah yang lebih baik bisa terjadi.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, dan Ani, Catharina Tri. 2009.Psikologi Perkembangan.Semarang:Universitas Negeri Semarang Press.
Prayitno, Elida.1991.Psikologi Perkembangan. Jakarta:Depdikbud, Dirjen Pendidikan Tinggi PPTK.
Rachdian Aqila Putri.2010.”Pertumbuhan dan Perkembangan”.(online).http://www.aqilaputri.rachdian.com.Diakses tanggal 11 Oktober 2013.
Aini Yulida.2013.”Makalah Implikasi Pertumbuhan dan Perkembangan”.(online).http://yulidaaini.blogspot.com/2013/06/makalah-implikasi-pertumbuhan-dan.html.Diakses tanggal 11 Oktober 2013




Tidak ada komentar:

Posting Komentar